TENTANG PLANET NERAKA
Menurut pandangan umum, memakan daging dan melakukan yadnya dengan mengorbankan binatang adalah hal-hal yang wajar. Namun jika kita kaji lebih dalam lagi, khususnya dari pandangan kesimpulan Kitab Suci Weda yang menganjurkan kemajuan spiritual bagi setiap umat manusia dalam rangka mencapai tujuan tertinggi dari kehidupan manusia, tentu ada banyak hal yang mesti kita perhatikan. Kita seharusnya berhati-hati sekali dalam melakukan segala sesuatu sebelum kita mengetahui secara pasti makna yang terkandung dalam Kitab Suci. Dalam Bhagavad-gita (9.26) Sri Krishna bersabda :patram puspham palam toyamyo me bhaktya prayacchatitad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah “Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bhakti,Aku akan menerimanya.“
Jadi sudah jelas disini bahwa Tuhan hanya menerima persembahan daun, bunga, buah atau air saja, dan dengan mengikuti aturan tersebut berarti persembahan yang kita lakukan ada dalam sifat kebaikan atau satvika yajna.
Begitu juga, ketika 500 tahun yang lalu Tuhan Sri Krishna berinkarnasi sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu, Beliau menyebutkan 5 hal yang tidak boleh dilakukan di jaman Kali ini, salah satunya yaitu mempersembahkan daging kepada leluhur. Oleh sebab itu, ketika kita belum tahu aturan Veda, jangan mengambil resiko, karena api neraka telah menunggu, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut :Srimad Bhagavatam Skanda 5 Bab 26 ayat 12 evam eva maharauravo yatra nipatitam purusam kravyada nama rauravas tam kravyena ghatayanti yah kevalam dehambharah artinya
“Hukuman di neraka yang bernama Maharaurava dikenakan bagi orang yang menjaga badannya sendiri dengan menyakiti makhluk lainnya. Di neraka ini, binatang ruru yang dikenal dengan nama kravyada menyiksanya dan memakan dagingnya.”Penjelasan Yang Maha Suci A.C Bhaktivedanta Swami Prabhupada Maharaja
Orang yang menganut paham binatang yang hidupnya hanya dalam konsep badan tidak bisa dimaafkan. Dia akan dilemparkan ke dalam neraka yang dikenal sebagai Maharaurava dan diserang oleh binatang ruru yang dikenal sebagai kravyadas.Srimad Bhagavatam Skanda 5 Bab 26 ayat 13 yas tv iha va ugrah pasun paksinova pranata uparandhayati tam apakarunam purusadair api vigarhitam amutra yamanucarah kumbhipake tapta-taile uparandhayanti artinya “Untuk menjaga badannya dan kepuasan lidahnya, orang-orang jahat memasak binatang-binatang yang tidak berdaya dan burung-burung. Orang-orang seperti itu dihukum bahkan oleh pemakan manusia. Dalam kehidupannya mendatang mereka dibawa oleh Yamaduta ke planet neraka yang bernama Kumbhipaka, dimana mereka dimasak di dalam minyak yang mendidih”
Srimad Bhagavatam Skanda 5 Bab 26 ayat 14
yas tv iha brahma-dhruk sa kalasutra-samjnake narake ayuta-yojana-
parimandale tamramaye tapta-khale upary-adhastad agny-arkabhyam
ati-tapyamane bhinivesitah ksut-pipasabhyam ca dahyamanantar-
bahih-sarira aste sete cestate vatisthati paridhavati ca yavanti pasu-
romani tavad varsa-sahasrani. Artinya:
“Pembunuh seorang Brahmana diletakkan ke dalam neraka yang bernama Kalasutra yang mana kelilingnya sebesar 8000 mil dan yang mana seluruhya terbuat dari tembaga. Memanasinya dari bawah dengan api dan dari atas dengan sinar matahari yang membakar, permukaan tembaga dari planet ini luar biasa panasnya. Demikianlah pembunuh seorang brahmana menderita dari rasa yang membakar dari dalam dan dari luar. Dari dalam dia dibakar oleh rasa lapar dan haus, dan dari luar dia dibakar oleh panas matahari dan api dibawah permukaan tembaga. Untuk itulah dia kadang-kadang berbaring, kadang-kadang duduk, kadang-kadang berdiri dan kadang-kadang berlari kesana-kemari. Dia harus menderita seperti ini selama ribuan tahun sebanyak jumlah bulu di badan seekor binatang”
Srimad Bhagavatam Skanda 5 Bab 26 ayat 17
yas tv iha vai bhutanam isvaropakalpita-vrttinam avivikta-para-
vyathanam svayam purusopakalpita-vrttir vivikta-para-vyatho vyatham
acarati sa paratrandhakupe tad-abhidrohena nipatati tatra hasau tair
jantubhih pasu-mrga-paksi-sarisrpair masaka-yuka-matkuna-
maksikadibhir ye ke cabhidrugdas taih sarvato ‘bhidruhyamanas
tamasi vihata-nidra-nirvrtir alabdhavasthanah parikramati yatha
kusarire jivah. artinya
Karena aturan Tuhan Yang Maha Esa, makhluk hidup-makhluk hidup yang rendah seperti binatang-binatang kecil dan nyamuk menghisap darah manusia dan binatang-binatang lainnya. Makhluk hidup yang kecil seperti ini tidak sadar jika gigitan mereka menyakiti manusia. Akan tetapi, kelas pertama manusia seperti brahmana, ksatria dan vaisya berkembang dalam kesadarannya, dan untuk itu mereka mengetahui bagaimana sakitnya dibunuh. Seorang manusia diberkahi dengan pengetahuan, tentu saja berbuat dosa jika dia membunuh atau menyiksa makhluk-makhluk kecil, yang tidak mempunyai kemampuan untuk membeda-bedakan. Tuhan Yang Maha Esa menghukum orang seperti itu dengan menempatkannya ke dalam neraka yang bernama Andhakupa, dimana dia diserang oleh semua burung-burung dan binatang buas, reptile, nyamuk, kutu, cacing, lalat dan makhluk hidup lainnya yang dia siksa selama hidupnya. Mereka menyerangnya dari segala sisi, merebutnya dan mengganggu tidurnya. Dia tidak bisa beristirahat, dia selalu mengembara dalam kegelapan. Demikianlah di Andhakupa penderitaannya sama seperti makhluk hidup dalam spesies yang rendah.”Penjelasan Yang Maha Suci A.C Bhaktivedanta Swami Prabhupada Maharaja:
Dari ayat yang sangat bermakna ini, kita belajar bahwa binatang-binatang yang lebih rendah, dibuat oleh hukum alam untuk mengganggu manusia, tidak dikenakan hukuman. Karena manusia mempunyai kesadaran yang berkembang, akan tetapi, dia tidak bisa melakukan sesuatu yang menentang prinsip varnasrama-dharma tanpa dihukum.
Srimad Bhagavatam Skanda 5 Bab 26 ayat 25
ye tv iha vai dambhika dambha-yajnesu pasun visasanti tan amusmil
loke vaisase narake patitan niraya-patayo yatayitva visasanti artinya
“Seseorang yang dalam kehidupannya bangga akan kedudukannya yang istimewa, dan yang secara tidak peduli mengorbankan binatang hanya demi kewibawaan material, ditempatkan ke dalam neraka yang bernama Visasana setelah kematiannya. Di
Di dalam Bhagavad-gita (6.41)
Srimad Bhagavatam Skanda 5 Bab 26 ayat 15
yas tv iha vai nija-veda-pathad anapady apagatah pakhandam
copagatas tam asi-patravanam pravesya kasaya praharanti tatra hasav
itas tato dhavamana u bhayato dharais tala-vanasi-patrais chidyamana-
sarvango ha hato smiti paramaya vedanaya murcchitah pade pade
nipatati sva-dharmaha pakhandanugatam phalam bhunkte artinya
“Jika seseorang menyimpang dari aturan Kitab Suci Veda yang pengaruh kecurangannya sangat berbahaya, utusan-utusan Yamaraja melemparkannya ke dalam neraka yang bernama Asi-patravana, dimana meraka akan memukulnya dengan cambuk. Ketika dia berlari kesana-kesani, melarikan diri dari rasa sakit yang luar biasa, di segala sisi dia menemukan pohon palm dengan daun-daunnya seperti pedang yang sangat tajam. Dengan demikian melukai seluruh badannya dan membuatnya pingsan dalam setiap langkahnya, dia menjerit “Oh, apa yang harus saya lakukan sekarang! Bagaimana caranya saya bisa diselamatkan! Inilah bagaimana menderitanya seseorang yang menyimpang dari prinsip-prinsip agama yang ditetapkan”
Penjelasan Yang Maha Suci A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada Maharaja
Sesungguhnya hanya ada satu prinsip keagamaan : dharman tu saksad bhagavat-pranitam. Satu-satunya prinsip keagamaan adalah untuk mengikuti perintah-perintah dari Tuhan Yang Maha Esa. Sayangnya, khususnya di Jaman Kali, kebanyakan orang tidak mengikuti aturan Kitab Suci Weda. Orang-orang tidak begitu perhatian tentang Tuhan. Apa yang harus dikatakan untuk mengikuti kata-kata-Nya. Kata nija-veda-patha bisa juga berarti “ prinsip-prinsip agamanya tersendiri”.Yang tadinya hanya ada satu veda-patha, atau sekumpulan prinsip-prinsip agama, sekarang ada banyak. Ini tidak jadi masalah, yang mana prinsip-prinsip agama yang mesti diikuti; perintahnya hanyalah dia harus mengikutinya dengan ketat. Seorang atheis atau nastika, adalah orang yang tidak percaya dengan Kitab Suci Veda. Akan tetapi, bahkan jika seseorang menganut agama yang berbeda, menurut ayat ini dia harus mengikuti prinsip-prinsip agama yang telah ditetapkan. Apakah dia orang Hindu, Muslim atau Kristen, dia harus mengikuti prinsip-prinsip agamanya sendiri-sendiri. Akan tetapi, jika seseorang membuat jalan agamanya sendiri menurut pikirannya atau jika seseorang tidak mengikuti prinsip-prinsip agama manapun, dia dihukum ke dalam neraka yang bernama Asi-patravana. Dengan kata lain, manusia seharusnya mengikuti prinsip-prinsip agama. Jika seseorang tidak mengikuti prinsip-prinsip agama, tanpa disadari dia sedang menggiring kehidupannya menuju kelahiran sebagai binatang. Seiring dengan kemajuan Kali Yuga, orang-orang menjadi tidak percaya dengan Tuhan dan mengikuti paham duniawi. Mereka tidak tahu hukuman yang menanti mereka di Asi-patravana, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat ini.
Jika kita tidak memakan atau mempersembahkan daging, tidak akan berakibat apapun. Tetapi sebaliknya, jika kita membunuh binatang untuk dimakan atau untuk yadnya tanpa aturan yang sangat tepat dan ketat dari Kitab Suci Weda, maka akan berakibat fatal. Siksaan api neraka telah menanti dalam kelahiran berikutnya, menjadi makhluk seperti itu atau hidup menjadi manusia rendah yang menderita lahir dan bathin. Lihatlah kenyataannya, ada orang yang lahir di tempat yang sedang terjadi peperangan, miskin, hidup dengan menderita sakit keras, dan ada banyak jenis binatang di muka bumi ini, dan masih banyak lagi jenis penderitaan yang lainnya yang disebabkan karena perbuatan berdosanya di masa lampau termasuk melakukan himsa karma itu.